From Nothing To Something (Sebuah Renungan Tentang Kepantasan)

•Februari 9, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

oleh : Mario Teguh

Mario teguh

Pada awalnya Diva (bukan nama sebenarnya) hanya seorang petugas kebersihan pada sebuah lembaga. Gaji yang diterimanya saat itu pun sangatlah minim yakni hanya Rp.200.000. Diva berkata di dalam hatinya “aku tak pantas lagi kerja di sini, aku harus berubah! tempat ku bukan di sini!” Begitulah hatinya bertekad setiap harinya. Berbekal gaji yang diterimanya tiap bulan, Diva “nekad” untuk mengikuti kursus komputer yang pada waktu itu absolutely tidak memiliki korelasi dengan pekerjaannya. Diva tetap nekad, dengan tekad “aku harus berubah!”.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun pun turut berganti. Berbekal selembar ijazah SMA dan sertifikat pendidikan komputer, Diva senantiasa berusaha keras untuk mencoba melamar pekerjaan yang lebih baik pada lembaga lain. Akhirnya perjuangan keras Diva membuahkan hasil, yakni saat Diva dipanggil tes pada sebuah lembaga dan berhasil lulus. Pada awalnya Diva hanya seorang karyawan biasa yang tugasnya “tukang ketik”, lambat laun Diva mulai berpikir “Aku tak pantas lagi bekerja pada posisi ini!”. Dengan tekad dan semangat yang keras Diva berusaha membuktikan pada pimpinannya, bahwa dia dapat memberikan kontribusi yang lebih baik bagi lembaga.

Hal itu ia buktikan dengan berjuang keras menempuh pendidikan pada jenjang sarjana. Saat ini Diva telah mendapatkan posisi kerja yang lebih baik, yakni telah memasuki wilayah kerja manajemen. Seperti biasanya DIva pun merenung “Aku tak pantas lagi bekerja pada posisi ini!”.

Dokter Bisnis dan para Super Member yang terhormat, semoga kisah ini dapat menjadi renungan bagi kita bersama, bahwa hidup memanglah sebuah perjuangan yang tiada henti. Untuk dapat mewujudkan mimpi-mimpi yang besar, maka terlebih dahulu kita harus menyusun segala hal dari langkah yang kecil. Keberhasilan tidaklah dicapai secara instant, namun memerlukan serangkaian proses yang panjang.l Apa yang pantas kita miliki saat ini, mungkin sudah tidak pantas lagi dimiliki esok hari. Namun satu hal yang penting, senantiasa bersyukur pada Yang Maha Kuasa terhadap segala nikmat dan karunia yang diberikan-Nya pada kita.

Iklan

Banggalah Ketika Anda Kalah

•Februari 9, 2008 • 1 Komentar

Oleh: Gde Prama
Gde Prama

Karena menganut prinsip hidup seperti air di sungai : mengalir, mengalir dan mengalir. Sering kali saya dihanyutkan oleh kehidupan entah ke mana. Di tahun-tahun terakhir, bahkan air sungai kehidupan saya bergerak lebih kejam dari biasanya. Memimpin orang-orang yang jauh lebih berat dari biasanya. Memiliki pekerjaan yang jauh lebih kompleks dari sebelumnya. Sebagian dari bawahan saya bahkan memiliki kemampuan kerja yang jauh lebih baik dari saya. Politik perkantoran berjalan di mana-mana. Merasa hidup tenteram lebih penting dari apapun, pernah mengusulkan agar bawahan mengganti saya, tetapi karena berbagai faktor lain belum diperbolehkan oleh ?yang maha kuasa?.Sebagai akibatnya, Anda bisa bayangkan sendiri, saya dihempas gelombang kehidupan yang demikian dahsyat. Masih bisa hidup, apa lagi bisa menulis sebenarnya sudah sangat beruntung. Akan tetapi, belakangan saya amat mensyukuri, ada banyak sekali kearifan dan kedewasaan hidup justru bersembunyi di balik hempasan gelombang kehidupan. Terus terang, saya berutang pada hempasan gelombang tadi.

Sebagai manusia biasa yang ditunjuk menjadi pemimpin, sayapun dihinggapi ?penyakit? mau menang di depan bawahan. Sayangnya, semakin penyakit tadi muncul, semakin saya dibawa jauh dari jalan keluar. Entah bagaimana pengalaman orang lain. Ternyata badan dan jiwa saya termasuk tipe yang tidak mau diajak ke dalam kehidupan menang-menangan. Semakin diajak ke sana, semakin rusak rasanya.

Di tengah kegundahan hidup semacam ini, seorang rekan dari Amerika mengirimi saya sebuah buku menarik. Buku yang ditulis oleh David Maraniss dengan judul When Pride Still Mattered : A Life of Vince Lombardi, bertutur apik tentang pilosopi hidup seorang pelatih sepak bola legendaris bernama Vince Lombardi. Hidup, memang tidak berbeda jauh dengan permainan sepak bola. Ada pertandingan. Ada pihak yang menang dan kalah. Ada perjuangan. Ada awal dan ada akhir.

Kompetisi memang membawa vitalitas dalam kehidupan. Membuat kehidupan menjadi lebih bergairah. Bangun pagi jadi bersemangat. Akan tetapi, sebagaimana permainan sepak bola, tidak pernah ada kehidupan yang senantiasa berisi kemenangan. Menang dan kalah adalah dua hal yang senantiasa bergandengan saling melengkapi. Ada yang menang karena ada yang kalah. Untuk itulah, agar supaya stamina hidup tetap terjaga penting sekali kita menguasai diri sendiri sebelum menguasai orang lain.

Dalam kaitannya dengan usaha menguasai diri sendiri Maraniss menulis amat apik : ?Be proud and unbending in defeat, yet humble and gentle in victory?. Dengan kata lain, banggalah ketika kalah dan rendah hatilah ketikan Anda menang. Mungkin bagi Anda ini biasa-biasa saja. Namun, bagi saya yang hidup dalam lingkungan kehidupan yang mendewakan kemenangan, petuah terakhir amat menggugah.

Bagaimana tidak menggugah, di tengah suasana hati yang kisruh gara-gara nafsu penuh kemenangan, tiba-tiba ada orang yang mengajak bangga untuk sebuah kekalahan. Dan seperti kejuaraan sepak bola, bukankah kita yang duduk di juara dua, tiga atau yang tidak dapat piala, menjadi ?tangga? yang mengangkat sang juara tinggi-tinggi ?. Dan lebih hebat lagi, sudah menjadi tangga yang diinjak juara, sering juga dicemoohkan orang lain. Bukankah amat mulia, di satu sisi mengangkat orang lain, dan di lain sisi kita direndahkan derajat kita oleh orang lain ?

Saya tidak tahu keyakinan Anda, namun saya merasa sudah menjadi pemenang setelah memahami prinsip ?banggalah ketika kalah?. Sebab, kemenangan sebenarnya ada di sini : di dalam diri sendiri. Dan ia mesti diperjuangkan terus menerus. Seperti ditulis Maraniss : ?complete victory can never be won, it must be pursued?. Memang, tidak pernah ada kemenangan yang sempurna, ia mesti senantiasa diperjuangkan. Di kesempatan lain, saya menyebutnya dengan logic of discovery bukan logic of perfection. Sebuah logika yang tidak mengkonsentrasikan pada kesempurnaan, namun pada penemuan dan perjalanan sehari-hari.

Setiap penemuan, ibarat sebuah penyucian yang mencerahkan. Tandanya sederhana, mulut berbentuk bundar sambil mengucapkan ?O?, jiwa tercerahkan, dan stamina fisik serta psikologis meningkat. Dan pengalaman saya bertutur, semua ini bersembunyi amat rapi di balik banyak sekali hempasan gelombang hidup.

Hanya dengan membaca, kita memang bisa tahu. Akan tetapi, pendalaman dengan pengertian lebih mungkin hadir ke mereka yang pernah lewat dari hempasan gelombang kehidupan yang ganas. Dan inilah yang membuat saya berhutang banyak pada Universitas Kesulitan. Sebuah sekolah yang amat saya banggakan. Melebihi kebanggaan pada sekolah saya di Inggris dan Prancis.

Anda, saya yakin pasti punya pengalaman tersendiri. Sebagaimana sidik jari yang unik, ia tentu saja bermakna unik juga. Hanya saja, pengalaman saya bertutur, Tuhan sebenarnya berkomunikasi dengan kita setiap hari. Sekali lagi, setiap hari. Melalui apa ? Tentu saja melalui kejadian-kejadian yang lewat di depan mata. Cuman, ada orang yang menangkap makna kejadian yang lewat di depan mata melalui seluruh kepekaannya, ada orang yang tuli dan buta dengan semua itu. Dalam bingkai berfikir seperti ini, saya mensyukuri baik kemenangan maupun kekalahan. Keduanya sama-sama menghadirkan kebanggaan. Bahkan dalam kekalahan, kebanggaan bercampur dengan kemuliaan.

Cinta dan Hanya Cinta

•Februari 9, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Oleh: Gde Prama
Gde Prama

Seperti anak-anak yang penuh dengan pertanyaan, ada kalanya saya rindu dengan keingintahuan ala anak kecil. Semua hal dipertanyakan. Kemanakah perginya api setelah ia mati? Apa yang membuat matahari selalu bangun pagi di ufuk timur? Kenapa mesti ada udara sebagai bahan bakunya kehidupan? Dari apakah air itu terbuat pada mulanya? Benarkah alam menyuarakan sesuatu setiap harinya? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang lain.Serupa dengan pertanyaan-pertanyaan yang didorong keingintahuan ala anak kecil, sepanjang sejarah, manusia senantiasa dihinggapi pertanyaan mendasar: kemanakah manusia pergi setelah dokter menyebut badannya meninggal? Betulkah ada surga dan neraka? Kenapa semua orang meninggal, satupun tidak ada yang kembali dengan badan yang sama, dan kemudian menceritakan pengalamannya ke semua orang?

Bila ada orang yang pusing diberondong pertanyaan, saya menikmati sekali kepala yang menghadang di depan dengan berbagai pertanyaan. Tidak untuk dijawab semuanya tentu, melainkan menghadirkan tarikan-tarikan keingintahuan yang bisa membawa kita ke pengetahuan yang lebih tinggi.

Oleh karena alasan inilah, kerap hati ini bertanya, kalau esensi bunga adalah madu, esensi susu adalah mentega, esensi buah anggur adalah minuman anggur, esensi pengetahuan adalah perfect wisdom, apakah bentuk esensi kehidupan? Sebagai a life traveler, inilah pertanyaan yang kerap menghadang saya. Dan sampai sekarang belum memperoleh jawaban yang jelas dan tegas bagi semua orang.

Bila bertemu sahabat pedagang dan pengusaha yang berdewakan uang, maka hartalah jawabannya. Jika bertemu sahabat politisi dan pekerja korporasi maka tahtalah jawabannya. Tatkala berhadapan dengan soul travelers seperti Kahlil Gibran maka cintalah jawabannya. Sebagaimana alam yang menawarkan demikian banyak pilihan, kehidupan juga serupa, ia menyediakan terlalu banyak pilihan dan alternatif. Anda boleh memilih yang mana saja.

Tataran setiap orang memang berbeda. Goncangan dan godaan hidup yang telah lewat juga tidak sama dari satu orang ke orang lain. Dan karena itu, bisa saja jalan saya berbeda dengan jalan Anda. Izinkan saya berbagi dalam tataran saya tentunya. Ketika kursi-kursi tahta tertinggi sudah pernah diduduki. Tatkala pergaulan tingkat tinggi pernah juga dilewati. Mana kala rasa heran terhadap hal-hal yang berbau tinggi tidak lagi berkunjung terlalu sering. Pada saat itu juga daya tarik harta dan tahta tidak lagi semenarik dulu. Yang tersisa hanya satu : cinta dan hanya cinta.

Semakin dihayati dan diselami, semakin tegas dan jelas alasan kenapa cinta yang menjadi wajah paling substantif dari kehidupan. Kita semua lahir dari sepasang orang tua yang umumnya saling jatuh cinta. Itupun bisa terjadi karena kehendak cinta Tuhan. Mulai ketika jadi benih sampai dengan keluar jadi bayi, kita semua berada dalam buaian cinta sebadan dengan Ibu. Begitu mulai bernafas bebas sampai dipanggil kematian, kita juga dicumbu dan dibuai oleh cinta-cinta alam semesta baik lewat udara, makanan, sinar matahari, keindahan alam, dll. Tidak pernah terjadi ada manusia kanak-kanak, dewasa maupun tua yang bisa hidup tenteram dan bahagia tanpa mencintai dan dicintai. Sehingga dalam totalitas, hidup ini bermula, berproses dan berakhir dengan cinta. Dan kalau kemudian, pada tingkatan-tingkatan tertentu ada kerinduan untuk kembali pada esensi yang bernama cinta, itu tentu mirip dengan kerinduan manusia akan kampung halaman. Kerinduan anak pada Ibunya. Kerinduan sang siang pada matahari. Kerinduan pohon pada bibit asalnya.

Dalam jalan pikiran seperti ini, bisa dimaklumi kalau Caroline Reynolds pernah menulis dalam Spiritual Fitness: “One day you will come to realize that you are simply an eternal essence in need of nothing except love?” Suatu hari Anda akan sampai pada kesadaran bahwa Anda hanyalah sebuah esensi yang tidak membutuhkan hal lain kecuali cinta.

Proses menuju pada kesadaran yang disebut Reynolds tadi memang bermacam-macam. Ada yang pernah sakit berkepanjangan. Ada yang meninggalkan kehidupan material secara radikal. Ada yang pernah disiksa kehidupan secara berulang. Ada yang pernah dijatuhkan kehidupan dari tempat yang amat tinggi. Dan masih banyak lagi macam ragam lainnya. Dan ada baiknya untuk kembali kepada esensi cinta, ketika sang kehidupan belum menggoda dengan godaan-godaannya yang dahsyat.

Sebab, sebagaimana diyakini banyak soul traveler, keseimbangan memang kendaraan utama dalam hal ini. Dan keseimbangan yang lebih sempurna lebih mudah tercapai ketika kita memasuki esensi cinta dalam kesadaran tanpa keterpaksaan. Sebab, setiap keterpaksaan adalah sebentuk goncangan yang sudah dan akan menggangu. Kerap terjadi, ketepaksaan ini juga yang membelokkan manusia ke tempat-tempat lain tanpa bisa diketahui sebelumnya. Lebih dari sekadar menjaga keseimbangan, sebagaimana pernah ditulis Krishan Chopra dalam The Mystery and Magic of Love: “When love rules our thought, deeds, and actions we enter the valley of eternal joy for the soul?”. Ketika cinta sudah menjadi penguasanya pikiran, tindakan dan perbuatan, kita sudah memasuki wilayah suka cita abadi buat sang jiwa.

Bercermin dari ini semua, bukankah layak sekali untuk direnungkan dan dipikirkan agar kita kembali ke asal muasal, kampung halaman, Ibu kandungnya kehidupan, benih dari segala benih yang bernama cinta?

Jatuh Cinta Sebagai Kejadian Spiritual

•Februari 9, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

oleh : gde prama
Gde Prama

Setiap orang pernah jatuh cinta. Umumnya, jatuh cinta itu terjadi pada orang dengan lawan jenis. Tidak ada satupun kata-kata yang bisa mewakili perasaan jatuh cinta. Sebutlah kata senang, gembira, bahagia, bergetar, berdebar, takut kehilangan, cemburu, ingin selalu bersama, semua terlihat bersinar dan menyenangkan, tetap saja tidak bisa mewakili seluruh nuansa jatuh cinta.Biasanya yang lama diingat orang melalui kejadian-kejadian jatuh cinta adalah perasaan-perasaan yang ada di dalam. Memegang tangan pasangan saja membuat jantung berdebar. Melihat matanya yang dibalut senyum bisa membuat terkenang-kenang selamanya. Kata-kata pertama yang menunjukkan lawan jenis kita tertarik dan jatuh cinta pada kita, bisa menjadi satu rangkaian kalimat yang terdengar di telinga setiap hari. Memperhatikan rambut, tata krama, cara berpakaian, cara bicara lawan jenis kita, semuanya tampak pas dan sempurna. Dan pada akhirnya membuat kita seperti memiliki dunia ini seorang diri.

Inilah rangkaian hal yang membuat cinta diidentikkan dengan perasaan (feeling). Banyak sudah lagu, film, sinetron, novel, syair, puisi yang lahir dari sumber cinta sebagai perasaan. Kalau kemudian banyak yang memberikan kesan cinta itu cengeng, lemah, tangisan dan sejenisnya, itu hanyalah sepenggal pemahaman tentang cinta sebagai perasaan.

Ada dimensi kedua dari cinta yang layak dicermati setelah cinta sebagai perasaan, yakni cinta sebagai sebuah kekuatan (power). Coba perhatikan pengalaman jatuh cinta kita masing-masing. Ada kekuatan maha dahsyat yang ada di dalam diri, yang membuat badan dan jiwa ini demikian perkasanya. Seolah-olah disuruh memindahkan gunungpun rasanya bisa. Hampir tidak ada penugasan dari lawan jenis yang kita cintai yang tidak bisa diselesaikan. Mulut ini seperti dengan cepatnya berteriak : bisa !

Bermula dari pemahaman seperti inilah maka Deepak Chopra dalam The Path To Love, menyebut bahwa jatuh cinta adalah sebuah kejadian spiritual. Ia tidak semata-mata bertemunya dua hati yang cocok kemudian menghasilkan jantung yang berdebar-debar. Ia adalah tanda-tanda hadirnya sebuah kekuatan yang dahsyat. Persoalannya kemudian, untuk apa kekuatan dahsyat tadi dilakukan.

Kaum agamawan nan bijaksana menggunakan kekuatan terakhir sebagai sarana untuk bertemu Tuhan. Usahawan yang berhasil menggunakan tenaga maha besar ini untuk menekuni seluruh pekerjaannya. Ibu yang mencintai keluarganya mengabdikan seluruh tenaganya untuk mencintai anak dan suaminya. Pekerja yang menyadari kekuatan ini menggunakannya untuk bekerja mencari harta di jalan-jalan cinta. Banyak orang yang dijemput keajaiban karena kemampuan untuk membangkitkan tenaga maha dahsyat ini.

Anda bisa bayangkan, tentara Inggris yang demikian perkasa harus pergi dari India karena kekuatan cinta Mahatma Gandhi beserta pejuang lainnya. Negeri ini dideklarasikan secara amat gagah berani melalui cinta duet Sukarno-Hatta. Demokrasi Amerika berutang amat banyak pada cinta George Washington. Raksasa elektronika Matsushita Electric dibangun di atas tiang-tiang cinta Konosuke Matsushita. Microsoft sampai sekarang masih dipangku oleh kecintaan manusia luar biasa yang bernama Bill Gates. Sulit membayangkan bagaimana seorang Jenderal besar Sudirman bisa memimpin pasukan melawan Belanda dengan badan yang sakit-sakitan, kalau tanpa modal cinta yang mengagumkan. Wanita perkasa dengan nama Kartini mengambil resiko yang demikian tinggi untuk mengangkat derajat kaumnya, apa lagi yang ada di baliknya kalau bukan kekuatan-kekuatan cinta.

Boleh saja Anda menyebut rangkaian bukti ini sebagai serangkaian kebetulan, tetapi saya lebih setuju dengan Deepak Chopra yang menyebut bahwa jatuh cinta adalah sebuah kejadian spiritual. Dari sinilah sang kehidupan kemudian menarik kita tinggi-tinggi ke rangkaian realita yang oleh pikiran biasa disebut luar biasa. Di bagian lain bukunya, Chopra menulis : ?merging with another person is an illusion, merging with the Self is the supreme reality?. Bergabung dengan orang lain hanyalah sebuah ilusi, tapi bergabung dengan sang Diri yang sejati, itulah sebuah realita yang maha utama.

Jatuh cinta sebagai kejadian spiritual, yang dituju adalah bergabungnya diri kita dengan Diri yang sejati. Ada yang menyebut Diri sejati terakhir dengan sebutan Tuhan, ada yang memberinya sebutan kebenaran, ada yang menyebutnya dengan inner life, dan masih banyak lagi sebutan lainnya. Apapun nama dan sebutannya, ketika Anda menemukannya, kata manapun tidak bisa mewakilinya. Yang ada hanya : ahhhhh !

Serupa dengan pengalaman jatuh cinta ketika kita masih muda, di mana semua unsur badan dan jiwa ini demikian kuat dan perkasanya, demikian juga dengan jatuh cinta sebagai kejadian spiritual. Ia mendamaikan, menggembirakan, mencerahkan, mengagumkan dan menakjubkan. Dan yang paling penting, semuanya kelihatan serba sempurna. Air sungai, daun di pohon, desir angin, suara ombak, wajah pegunungan, demikian juga dengan pekerjaan, keluarga, atasan, bawahan. Seorang sahabat yang kerap jatuh cinta seperti ini, pernah mengungkapkan, dalam keadaan jatuh cinta, setiap lembar daun di pohon apapun terlihat seperti sehalaman buku suci yang penuh inspirasi. Setiap hembusan angin adalah pelukan-pelukan tangan kekasih yang amat menyentuh. Setiap suara air adalah nyanyian-nyanyian rindu yang menyentuh kalbu. Anda tertarik ?

e-book Harry potter 7 versi Indonesia

•Februari 9, 2008 • 2 Komentar

Ini ada buku Harry Potter versi indonesia.. lumayan buat yang koleksi n blom beli.. klik disini

Paper Ubiquitous Web Application

•November 12, 2007 • 1 Komentar

Sekarang ini, Web lebih banyak digunakan sebagai sebuah platform untuk aplikasi full fledged, yang terus meningkat kompleksitasnya, di mana sangat besar jumlah data yang diatur dengan akses ke services dapat yubesitas yaitu , darimanapun (anywhere), media apapun (anymedia) dan setiap waktu (anytime).

Blog Underconstruction

•September 15, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

”Sorry to this condition”