Cinta dan Hanya Cinta

Oleh: Gde Prama
Gde Prama

Seperti anak-anak yang penuh dengan pertanyaan, ada kalanya saya rindu dengan keingintahuan ala anak kecil. Semua hal dipertanyakan. Kemanakah perginya api setelah ia mati? Apa yang membuat matahari selalu bangun pagi di ufuk timur? Kenapa mesti ada udara sebagai bahan bakunya kehidupan? Dari apakah air itu terbuat pada mulanya? Benarkah alam menyuarakan sesuatu setiap harinya? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang lain.Serupa dengan pertanyaan-pertanyaan yang didorong keingintahuan ala anak kecil, sepanjang sejarah, manusia senantiasa dihinggapi pertanyaan mendasar: kemanakah manusia pergi setelah dokter menyebut badannya meninggal? Betulkah ada surga dan neraka? Kenapa semua orang meninggal, satupun tidak ada yang kembali dengan badan yang sama, dan kemudian menceritakan pengalamannya ke semua orang?

Bila ada orang yang pusing diberondong pertanyaan, saya menikmati sekali kepala yang menghadang di depan dengan berbagai pertanyaan. Tidak untuk dijawab semuanya tentu, melainkan menghadirkan tarikan-tarikan keingintahuan yang bisa membawa kita ke pengetahuan yang lebih tinggi.

Oleh karena alasan inilah, kerap hati ini bertanya, kalau esensi bunga adalah madu, esensi susu adalah mentega, esensi buah anggur adalah minuman anggur, esensi pengetahuan adalah perfect wisdom, apakah bentuk esensi kehidupan? Sebagai a life traveler, inilah pertanyaan yang kerap menghadang saya. Dan sampai sekarang belum memperoleh jawaban yang jelas dan tegas bagi semua orang.

Bila bertemu sahabat pedagang dan pengusaha yang berdewakan uang, maka hartalah jawabannya. Jika bertemu sahabat politisi dan pekerja korporasi maka tahtalah jawabannya. Tatkala berhadapan dengan soul travelers seperti Kahlil Gibran maka cintalah jawabannya. Sebagaimana alam yang menawarkan demikian banyak pilihan, kehidupan juga serupa, ia menyediakan terlalu banyak pilihan dan alternatif. Anda boleh memilih yang mana saja.

Tataran setiap orang memang berbeda. Goncangan dan godaan hidup yang telah lewat juga tidak sama dari satu orang ke orang lain. Dan karena itu, bisa saja jalan saya berbeda dengan jalan Anda. Izinkan saya berbagi dalam tataran saya tentunya. Ketika kursi-kursi tahta tertinggi sudah pernah diduduki. Tatkala pergaulan tingkat tinggi pernah juga dilewati. Mana kala rasa heran terhadap hal-hal yang berbau tinggi tidak lagi berkunjung terlalu sering. Pada saat itu juga daya tarik harta dan tahta tidak lagi semenarik dulu. Yang tersisa hanya satu : cinta dan hanya cinta.

Semakin dihayati dan diselami, semakin tegas dan jelas alasan kenapa cinta yang menjadi wajah paling substantif dari kehidupan. Kita semua lahir dari sepasang orang tua yang umumnya saling jatuh cinta. Itupun bisa terjadi karena kehendak cinta Tuhan. Mulai ketika jadi benih sampai dengan keluar jadi bayi, kita semua berada dalam buaian cinta sebadan dengan Ibu. Begitu mulai bernafas bebas sampai dipanggil kematian, kita juga dicumbu dan dibuai oleh cinta-cinta alam semesta baik lewat udara, makanan, sinar matahari, keindahan alam, dll. Tidak pernah terjadi ada manusia kanak-kanak, dewasa maupun tua yang bisa hidup tenteram dan bahagia tanpa mencintai dan dicintai. Sehingga dalam totalitas, hidup ini bermula, berproses dan berakhir dengan cinta. Dan kalau kemudian, pada tingkatan-tingkatan tertentu ada kerinduan untuk kembali pada esensi yang bernama cinta, itu tentu mirip dengan kerinduan manusia akan kampung halaman. Kerinduan anak pada Ibunya. Kerinduan sang siang pada matahari. Kerinduan pohon pada bibit asalnya.

Dalam jalan pikiran seperti ini, bisa dimaklumi kalau Caroline Reynolds pernah menulis dalam Spiritual Fitness: “One day you will come to realize that you are simply an eternal essence in need of nothing except love?” Suatu hari Anda akan sampai pada kesadaran bahwa Anda hanyalah sebuah esensi yang tidak membutuhkan hal lain kecuali cinta.

Proses menuju pada kesadaran yang disebut Reynolds tadi memang bermacam-macam. Ada yang pernah sakit berkepanjangan. Ada yang meninggalkan kehidupan material secara radikal. Ada yang pernah disiksa kehidupan secara berulang. Ada yang pernah dijatuhkan kehidupan dari tempat yang amat tinggi. Dan masih banyak lagi macam ragam lainnya. Dan ada baiknya untuk kembali kepada esensi cinta, ketika sang kehidupan belum menggoda dengan godaan-godaannya yang dahsyat.

Sebab, sebagaimana diyakini banyak soul traveler, keseimbangan memang kendaraan utama dalam hal ini. Dan keseimbangan yang lebih sempurna lebih mudah tercapai ketika kita memasuki esensi cinta dalam kesadaran tanpa keterpaksaan. Sebab, setiap keterpaksaan adalah sebentuk goncangan yang sudah dan akan menggangu. Kerap terjadi, ketepaksaan ini juga yang membelokkan manusia ke tempat-tempat lain tanpa bisa diketahui sebelumnya. Lebih dari sekadar menjaga keseimbangan, sebagaimana pernah ditulis Krishan Chopra dalam The Mystery and Magic of Love: “When love rules our thought, deeds, and actions we enter the valley of eternal joy for the soul?”. Ketika cinta sudah menjadi penguasanya pikiran, tindakan dan perbuatan, kita sudah memasuki wilayah suka cita abadi buat sang jiwa.

Bercermin dari ini semua, bukankah layak sekali untuk direnungkan dan dipikirkan agar kita kembali ke asal muasal, kampung halaman, Ibu kandungnya kehidupan, benih dari segala benih yang bernama cinta?

~ oleh Rendi pada Februari 9, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: